A Conspiracy Of Kindness, Inspirational Story

A Conspiracy Of Kindness, Inspirational Story
Kevin is a boy who might be described as “slow.” He didn’t learn his ABCs as fast as other kids. He couldn’t compete in schoolyard races. But Kevin had a way with people. His bright smile and big heart won him plenty of friends. My friend Randy, the pastor at Kevin’s church, decided they needed a basketball team for boys. Kevin signed on and soon basketball became a center of his life. He practiced hard. While the other boys worked at dribbling the basketball and shooting lay-ups, skills Kevin would never master, he simply shot baskets. Or more correctly, he thre Read the story »

Login



Media Partner

Pages

Recent Posts

Categories

Archives

Tuhan Terlalu Mencintai Indonesia

Pengungsi

Gempa sebagai fenomena alam memiliki ’sunnah’ sendiri sesuai dengan ’sunnah’-Nya. Bencana dan musibah demikian berturut-turut menimpa Indonesia. Sebagai bangsa yang masih memiliki agama, fenomena ini sering dikait-kaitkan dengan peringatan, teguran bahkan mungkin adzab dari Tuhan pada penghuninya. Dan, mungkin akan ditafsiri berbeda bilamana musibah ini terjadi di Amerika mungkin juga Eropa.

Tapi, entahlah, jika memang ini dikaitkan dengan agama, maka logika berfikir menjadi jungkir balik akibat keterbatasan tafsir atas teks suci yang memang di luar jangkauan kemampuan. Setidaknya, saya lebih berprasangka baik pada Tuhan dan mengakibatkan paranoid pada diri sendiri, jangan-jangan kita semua bukanlah bagian dari mereka yang dicintai-NYA.

Merunut kembali ke belakang, bencana demi bencana menimpa saudara-saudara kita yang ada di daerah, pedalaman, pinggiran dan terpinggirkan, baik secara sosial, ekonomi lebih-lebih politik. Akses mereka jauh dari yang namanya peradaban modern dan cenderung lebih sebagai mangsa ketimbang pemangsa dalam tatanan sosial barbarian.

Saya sedemikian yakin, bahwa mereka-mereka yang tertimpa musibah secara kumulatif memiliki kesalehan individu dan sosial yang berlebih daripada mereka yang hidup di kota-kota besar. Mereka lebih ahli ‘dzikru ilallah’ daripada mereka yang di kota, ‘dzikru iladdunya’.

Mereka lebih dikasihi dan dicintai-Nya. Mereka terlalu lelah teraniaya peradaban, terpinggirkan sistem, terobjektifikasi oleh subyek-subyek kekuasaan. Tuhan sedemikian lelah dan iba terhadap nasib mereka sehingga perlu untuk memanggilnya kembali menemui-Nya.

Dan bagi mereka yang masih diizinkan untuk tetap tinggal di dunia, peran dan fungsi mereka sungguh besar untuk menggantikan posisi mereka yang telah dipanggil-Nya untuk menjadi pengingat para subyek-subyek kekuasaan dan peradaban untuk lebih berlaku adil, arif dan bijaksana.

Mudah-mudahan para syahid dan syahidah di sana menemui-Nya dengan kebahagiaan sejati. Dan yang ditinggalkan tetap menjaga amanah meneruskan menjadi orang-orang yang menjadi kekasih dan kecintaan-Nya.

Foto: http://foto.detik.com

Comments (5)

luxsman

October 3rd, 2009 at 9:19 am    


amien…….

Anang

October 4th, 2009 at 7:18 am    


Amin

SemutGeniNet

January 23rd, 2010 at 3:10 am    


saking terlalu mencintainya ampe musibah trus2an … kalopun cobaan kok trus2an ya *tepok jidat*

apa dengan ‘pepatah’ … “Tuhan tidak akan ngasih cobaan pada umatNya melebihi dari kemampuanya”

‘pepatah’ itu apa hanya untuk menenangkan jiwa?

Next-Prev

January 24th, 2010 at 11:27 pm    


Amiiinnn…

senoaji

January 25th, 2010 at 11:59 pm    


semacam…

Leave a reply

Name *

Mail *

Website