Tahun 2009 penuh dengan kejutan-kejutan yang menghentakkan alam batin bangsa Indonesia. Tahun yang panas akan perhelatan politik di mulai sejak awal tahun ini juga diwarnai dengan dentuman bom teroris dan rentetan peluru yang menghantam dan meluluhlantakkan jaringan teroris.
Tahun yang juga menyisakan duka mendalam bagi jagad dunia budaya dan sastra dengan meninggalnya WS. Rendra sang Raja Penyair. Belum cukup Indonesia kehilangan penyair terbaiknya, Indonesia di penghujung 2009 kehilangan tokoh besar bangsanya, K.H. Abdurrahman Wahid. Sebuah kehilangan besar dan amat mendalam bagi sebagian besar pengikutnya, baik pengikut rasional maupun yang irrasional.
Beliau tokoh yang kiprahnya mendunia ini merupakan sosok kontroversial yang menyisakan tanya besar di berbagai kalangan. ‘Sang Pendobrak‘ adalah nama kecilnya yang juga sekaligus gelar yang disematkan kepada beliau dari mereka yang kenal betul kiprahnya. Bahkan lawan-lawan politiknya sendiri mengakui ketajaman pemikiran Gus Dur yang memandang Indonesia jauh lebih ke depan.
Ranah hukum pun diwarnai praktik-praktik nista yang terbongkar dari terungkapnya skandal bank century melalui rekaman perkacakapan pengusaha korup dengan praktisi hukum yang korup (saya enggan menyebutkan namanya karena saking muaknya). Juga dengan tercabiknya rasa keadilan dengan kasus prita berhadapan dengan RS. Omni Tangerang. Syukurlah di penghujung tahun Prita mendapatkan kebebasannya setelah kasus pidananya divonis bebas dan sebelumnya koin keadilan telah menjadikan kasus perdatanya ditutup.
Selamat tinggal Rendra, selamat tinggal Gus Dur dan Selamat Tinggal 2009.




