A Conspiracy Of Kindness, Inspirational Story

Politik dan Sastra
Kemarin sempat maen-maen dengan facebook dan terlontar di wall seperti di bawah ini (mudah2an tak terjerat UUT ITE).
Gempur Abdul Ghofur Entah yang salah di mana? atau apanya? Politik menyuburkan curiga dan waspada berlebihan, sementara sastra menyuburkan kelembutan dan ketulusan. Sepakat ndak? Juga, politik melahirkan orang-orang cerdas tapi seringkali meresahkan sementara sastra seringkali melahirkan orang-orang utopis penuh gairah kelembutan dan kasih sayang? Sepakat ndak?
Yesterday at 5:26pmBerikut ini responnya:
BOLEH JADI SAYA YANG SALAH..!!!!!
*sambil menunggu dosen sastra UGM dan alumni sastra UGM berkeliaran di sini……!!!!*
Tergantung gimana sifat orangnya…
Toh jurusan hanya mempengaruhi…
Yang menentukan baik buruknya kan ya masing2 individunya…
Horeeeeeeeeee… wallku jadi ramaiiiiiiiiiiiiiiiii… makasih, makasih, makasih, makasih, makasih.
*sambil membungkukkan badan berkali-kali ala orang jepang kepada semua yg sudah berpartisipasi*
Dan stiap wadah kan mmiliki btuk n lenting yg brbeda2….
Dsitulah brlaku seleksi…
“itu wajar n alamiah. Kukira brlaku tuk smuax n sp saja”
tu pndapat q sich…hehehe… See More
wah. . jd bangga nih jd mahasiswa sastra. .
hemm. .
karna dlm bersastra seorg sastrawan mmerlukan gaya
coz nilai estetik dlm sastra tu mutlak adanya… See More
cemooh’an pun bisa jadi suatu yg indah jika d ungkapkan dg gaya
gpp wez. . .
Categories: Flash of Mind, Head Review, Not Blank
Tags: blank tenanan, humanity, institusional, Perlawanan, Politik, Sastra, zero mind














Comments
No Comments
Leave a reply