Setelah gempa yang terjadi pada bulan ramadhan kemarin di Jawa Barat, kini Indonesia diguncang gempa kembali dan kini terjadi di wilayah Sumatera Barat, tepatnya di daerah Padang.
Korban jiwa sampai tulisan ini terbit sudah mencapai puluhan orang yang mungkin bisa menembus ratusan. Gempa yang berkekuatan 7,6 skala richter itu terjadi pada sore hari pada saat orang-orang sedang bersiap diri untuk mengakhiri aktifitas seharian sebelumnya.
Saya bisa membayangkan, dalam keadaan gelap gulita dan disiram hujan meski tak lebat dan dengan tempat berteduh yang seadanya yang tentunya menjauh dari bangunan dengan persediaan makanan yang pas-pasan bahkan mungkin kurang.
Saya sendiri sempat mengalaminya pasca gempa Jogja, di mana saya harus berdiri semalaman berteduh di rindang pohon yang sesekali menjatuhkan air hujan yang sempat tertahan oleh daun dan rantingnya. Dalam keadaan perut keroncongan, rokok tinggal beberapa batang yang akhirnya kurelakan untuk dihisap beramai-ramai demi mempertahankan kehangatan.
Para lelakinya harus berdiri semalaman sementara anak-anak, balita, wanita dan lansia berteduh di dalam tenda darurat. Hingga larut malam masih terdengar tangisan anak-anak yang kakinya terluka terhimpit reruntuhan. Ah, masih juga memori itu belum juga hilang. Meski tak berada di tempat saat guncangan hebat itu terjadi, saya masih bisa merasakan malam mencekam tanpa penerangan dengan rintik hujan sesekali terdengar teriakan: Ÿa Allah.. Ya Allah…” ketika guncangan-guncangan kecil mengusik tidur mereka yang lelah.
Ya Allah, masih juga kami terima gempa ini dan masih juga kami akan ikhlas memahami sunnah-Mu. Masih juga kami akan selalu memaknainya dengan prasangka baik terhadap-Mu. Kami juga tetap akan memberitakannya, menguras empati sedalam-dalamnya, melakukan pertolongan secepatnya, menggalang bantuan darurat sepantasnya.
Meski, tak sedikit juga kami memanfaatkannya, menilep bantuannya, menjadikan proyek untuk kelangsungan kantong kami. Juga tak lupa kami tetap akan menyelenggarakan hura-hura dan huru-hara demi menjaga gengsi hidup kami sebagaimana perayaan tahun baru 2005 secara besar-besaran pasca Tsunami Aceh, karena toh tanpa empati kami, Aceh tertolong, Padang tertolong, Tasik dan Yogya tertolong.
Toh, bencana juga menjadi rutinitas kita yang tak perlu lagi mengundang perhatian sebesar-besarnya…? dan tak lagi menjadi barang aneh di negeri ini..? Mari tetap berpesta…..?
Foto: http://www.padangkini.com




