Just another meaning of Blank
RSS:
Publications
Comments

Antrian Halal Bi Halal

halal bi halal

halal bi halal

Halal bi halal yang terjadi saat ini utamanya di tempat saya bekerja, pada prinsipnya sangat baik dan patut dikembang-tumbuhkan. Secara pribadi menjadi ‘barang budaya’ yang tentunya indah untuk dikoleksi dalam ‘rumah peradaban’ dalam kantong imajinasi dan memori pikiran.

Prosesi budaya yang menjadi bagian integral dari ‘rumah peradaban’ modern dengan indikator ‘produksi massal’ untuk menekan biaya ekonomi itu menjelma dalam proses budaya yang indah. Satu seragam, satu baju, satu identitas, satu rasa berkumpul dalam satu tempat dan waktu untuk sekadar mengharmonisasi ‘interaksi sosial’ yang sebelumnya pernah terjadi dan mungkin terjadi gesekan-gesekan di dalamnya dan akhirnya diharapkan bisa melebur dalam satu acara ‘halal-bi halal’.

Sayangnya, lagi-lagi kita semua terjerembab dalam simbol-simbol dan ritus-ritus yang kemudian diselewengkan mejadi ajang pertemuan ‘mode’, ‘gengsi’, ‘kelas’, ‘strata’ yang akhirnya tetap membuat kita tersekat, terikat dalam kesatuan lembaga, instansi, organisasi dan tak sepenuhnya menjadi pribadi yang benar-benar utuh secara pribadi tanpa embel-embel status, strata.

Saya jadi bertanya-tanya, kita kembali ‘FITRI’ atau kembali menjadi ‘PEGAWAI’, ‘BOS’, ‘MANAJER’.

Saya berharap ada halal bi halal terjadi di mana bos tak lagi menjadi bos, bawahan tak lagi menjadi bawahan, bos dan bawahan saling berkeliling saling mendahului untuk bertegur sapa, saling mendahului untuk meminta maaf, saling mendahului untuk kembali mengharmonisasi hubungan yang telah terjalin. Tak perlu lagi, BOS berdiri manis di podium paling depan dan bawahan antre bergantian menyalaminya. Sebenarnya, siapa yang paling banyak dosa dan salahnya antara BOS dan PEGAWAI?

Di negeri yang serba antri untuk mendapat kebaikan kita sudah terlalu banyak mengantri dan itu baik.  Untuk kebaikan kompor gas agar dapur kita mengepul maka kita harus mengantri, untuk dapat sembako murah kita harus mengantri, untuk dapat dana kompensasi BBM kita harus mengantri.

Kenapa untuk sekadar salaman dan bermaaf-maafan kita harus mengantri? Sesekali, ‘kebut-kebutan’ itu diijinkan pada saat halal bi halal, kesemrawutan itu dibiarkan, tabrak-tabrakan itu dianjurkan. Dan jangan pernah membiarkannya terjadi di jalanan, karena di jalanan lah tempat yang paling cocok untuk kita ANTRI.

Foto:  semarang.go.id

1 Comment to "Antrian Halal Bi Halal"

  1. DET's Gravatar DET
    September 30, 2009 - 9:47 am | Permalink

    hakakaaka… betul pak.. (opone sing betul?)

    iki blog anyar ancen ate gawe buak sampak ta? ayo ayo… *lempar plastik bekas*

Leave a Reply

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>